Keindahan


ILMU BUDAYA DASAR
Sub Konsep Keindahan


1KA14
Kelompok 1
Nama:
Aminah Khansa Kamila (10119659)











Sistem Informasi
Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi
Universitas Gunadarma
Jakarta
2020




DAFTAR ISI
DAFTAR ISI........................................................................................... i
Konsep Keindahan.................................................................................. 1
Definisi Keindahan................................................................................. 2
Unsur Keindahan.................................................................................... 5
Daftar Pustaka........................................................................................ 6












Konsep Keindahan
Konsep Keindahan adalah abstrak dan tidak dapat berkomunikasi sebelum diberi bentuk. Oleh karena itu, banyak pemikir yang tidak puas terhadap pendapat yang menyatakan bahwa keindahan itu hasil meniru dari alam. Dan meniru dari alam belum tentu menciptakan keindahan. Melalui proses mencari pemberian untuk imajinasinya, seseorang akan mencapai keindahan. Keingintahuan dan dambaan akan keindahan akan membantu keindahan.
(Sulaeman, hal 109)
            Apabila “indah” itu merupakan konsep konkret yang melekat pada suatu bentuk, “keibdahan” merupakan konsep abstrak yang tidak mempunyai arti apa-apa karena tidak dihubungkan dengan suatu bentuk. Contohnya, jika kita menyebut “keindahan”, konsep tersebut tidak jelas karena tidak dihubungkan dengan suatu bentuk. Akan tetapi, jika kita menyebut “bunga yang indah”, konsep tersebut sangat jelas karena dihubungkan dengan suatu bentuk.
(Muhammad, 2011, hal 111-112)
            Manusia adalah sesuatu yang indah, karena mereka menyukai terhadap keindahan alam maupun terhadap keindahan seni. Keindahan alam adalah “keharmonisan yang menakjubkan dan hukum-hukum alam”, yang dibukakan untuk mereka yang mempunyai kemampuan untuk menerimanya. Sedangkan keindahan seni adalah keindahan buatan atau hasil ciptaan manusia, yaitu buatan seseorang (seniman) yang mempunyai bakat untuk menciptakan sesuatu yang indah, sebuah karya seni. Manusia dan keindahan memang tak bisa dipisahkan sehingga diperlukan pelestarian bentuk keindahan yang dituangkan dalam berbagai bentuk kesenian (seni rupa, seni suara maupun seni pertunjukan) yang nantinya manjadi bagian dari kebudayaannya yang dapat dibanggakan dan mudah-mudahan terlepas dari unsur politik. Kawasan keindahan bagi manusia sangat luas, seluas keanekaragaman manusia dan sesuai pula dengan perkembangan peradaban teknologi, sosial, dan budaya. Karena itu keindahan dapat dikatakan, bahwa keindahan merupakan bagian hidup manusia.








Definisi Keindahan
Keindahan atau estetika berasal dari kata Yunani yang berarti merasakan  to sense atau to perceive. Pengalaman keindahan termasuk ke dalam tingkat persepsi dalam pengalaman manusia, biasanya bersifat visual (terhilat) atau terdengar (auditory) walaupun tidak terbatas pada dua hubungannya dengan rasa sentuh , rasa ,atau bau .
Pengalaman keindahan mencakup penyerapan perhatian yang menyenangkan dalam pengalaman perseptual sejauh ia timbul dari pandangan yang sepi disebut manusia. Emosi estetis dapat dibangkitkan karena hasil-hasil kesenian ketika seniman berusaha menimbulkan respons ,atau dapat di bangkitkan oleh bermacam-macam objek atau pengalaman yang terjadi secara tak dituangkan ke dalam kehiduap sehari hari. (Titus, Smith, dan Nolan, 1979)
(Sulaeman, hal 109)
Keindahan berasal dari kata dasar “indah”, yang dapat diartikan bagus, cantik, molek, elok, dan permai, yaitu sifat yang menyenangkan, menggembirakan menarik perhatian, dan tidak membosankan yang melekat pada suatu objek. Objek tersebut berbentuk konkret, dapat berupa benda, ciptaan, perbuatan, atau keadaan.
            Indah dalam Bahasa Yunani disebut “aisthesis”, diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi estetis, artinya sifat indah, yaitu nilai kualitas dari suatu objek. Jadi suatu objek dikatakan indah apabila menyenangkan, menggembirakan, menarik perhatian, dan tidak membosankan orang yang melihat, mendengar, atau mengalaminya.
            Rasa keindahan (sense of beauty) adalah rasa yang diterima oleh hati nurani sebagai hal yang menyenangkan, menggembirakan, menarik perhatian, dan tidak membosankan. Jadi, sesuatu itu dikatakan memiliki rasa keindahan apabila memenuhi sifat kualitas berikut ini:
a.       menyenangkan (happy);
b.      menggembirakan (cheerful);
c.       menarik perhatian (attractive); dan
d.      tidak membosankan (unboring)
Sifat keindahan (nature of beauty) bersumber dari unsur rasa yang ada dalam diri manusia, yang memberi pertimbangan bahwa keindahan itu adalah kebaikan dan dibenarkan oleh akal. Sifat keindahan itu adalah kebaikan (goodness), artinya setiap sesuatu yang indah pasti menyenangkan, menggembirakan, menarik perhatian, dan tidak membosankan.
Selain sifat keindahan yang telah disebutkan tadi, ada pula sifat keaslian (organality), artinya objek itu asli, bukan tiruan, setiap objek yang asli selalu memiliki keindahan, artinya menyenangkan, menggembirakan, menarik perhatian, dan tidakk membosankan orang yang melihatnya.
Sifat keindahan itu adalah keabadian (durability), artinya tidak pernah dilupakan, tidak pernah hilang, atau susut. Karya musik Beethoven tidak pernah dilupakan orang karena keindahan itu abadi. Suatu objek yang memiliki keindahan yang abadi tidak pernah hilang ataupun tidak susut.
(Muhammad, 2011, hal 111-115)
            Kebudayaan itu terpelihara terus kelestarian dan kelangsungannya karena keindahannya. Jadi, keindahan itu menentukan kelestarian dan kelangsungan suatu kebudayaan. Keindahan dapat dinikmati melalui selera seni atau selera biasa. Keindahan melalui selera seni didasari oleh faktor kontemplasi (contemplation) dan faktor ekstasi (ecstasy). Dalam Kamus Inggris-Indonesia oleh John M. Echols dan Hassan Shadily (1995), kontemplasi menurut arti kata adalah perenungan, pemikiran, dan penatapan tentang sesuatu. Dalam konteksnya dengan keindahan kontemplasi merupakan perenungan, pemikiran, dan penatapan tentang sesuatu yang indah dan ini cara mengisi waktu yang menyenangkan. Dengan kata lain, kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Dalam kamus tersebut, ekstansi menurut arti kata adalah kegembiraan luar biasa mengenai sesuatu. Dalam konteksnya dengan keindahan ekstasi adalah perasaan gembira dan senang melihat atau mengalami sesuatu yang indah. Dengan kata lain, ekstasi adalah dasar dalam diri manusia untuk merasakan dan menikmati sesuatu yang indah.
            Apabila dihubungkan dengan kreativitas, kontemplasi merupakan faktor pendorong untuk menciptakan sesuatu yang indah, sedangkan ekstasi merupakan faktor pendorong untuk merasakan dan menikmati sesuatu yang indah. Dalam diri manusia terdapat faktor kontemplasi dan ekstasi, oleh karena itu keindahan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Semua manusia membutuhkan keindahan. Dalam keindahan tercermin unsur keserasian dna kehalusan. Keserasian adalah kemampuan menata sesuatu yang dapat dinikmati orang lain karena indah. Keserasian itu dikatakan indah karena cocok, sesuai pantas, serta keterpaduan beberapa kualitas.
            Nilai moral dan ekstetis adalah kebaikan, dan kebaikan itu adalah keindahan. Keindahan adalah bagian dari kehidupan manusia yang merupakan kebutuhan kodrati. Karena itu, manusia berusaha menciptakan keindahan. Untuk memenuhi kebutuhan akan keindahan, manusia berkreativitas menghasilkan karya cipta.
            Keburukan harus disingkirkan dan diganti dengan keindahan. Keindahan adalah nilai yang menghargai dan menghormati serta mengangkat martabat manusia.
(Muhammad, 2011, hal 118-121)
Keindahan dapat dijumpai berbagai bentuk ciptaan, baik itu karya budaya ciptaan manusia maupun alam ciptaan tuhan keindahan dapat merasap ke dalam jiwa manusia apabila dihayati. Untuk itu, perlu dilakukan berbagai pendekatan terhadap keindahan. Melalui berbagai pendekatan akan dapat dirasakan pengaruh keindahan terhadapan jiwa manusia. Semua orang menginginkan keindahan. Keindahan tersebut, antara lain terdapat dalam kerapian dan keselarasan berpakaian membuat orang lain menjadi kagum melihatnya, sehingga terungkap kata cantik, ganteng, cakep, dan sebagainya. Di balik semua itu, tersimpul harga diri, kenikmatan, kehalusan, dan kebersihan jiwa.
(Muhammad, 2011, hal 126)
           Keindahan adalah identik dengan kebenaran. Keindahan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah, yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Karena itu tiruan lukisan Monalisa tidak indah, karena dasarnya tidak benar
           Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan atau lokal
(Prasetya, 1991, hal 75)
          The Liang Gang menjelaskan bahwa keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan
          Bangsa Yunani mengenal pengertian keindahan dalam arti estetik disebutnya “symmetria”untuk keindahan berdasarkan pengelihatan dan “harmonia”untuk keindahan berdasarkan pendengaran
          Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya.
         Keindahan dalam arti yang terbatas mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan pengelihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna.
(Prasetya, 1991, hal 76)
         






Unsur Keindahan
            Jadi kendahan pada dasarnya adalah sejumlah kwalita pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal. Kwalita yang paling sering disebut adalah kesatuan (unity),keselarasan (harmony), kesetangkupan (symmentry), keseimbangan (balance) dan perlawanan (contrast).
Keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebaikan  dari garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata. Ada pula yang berpandapat, bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan si pengamat.
(Prasetya, 1991, hal 77)
Didalam keindahan juga terdapat unsur lainnya yaitu:
a.       Nilai estetik
Dalam rangka teori umum tentang nilai The Liang Gie menjelaskan bahwa, pengertian keindahan di anggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomi, nilai pendidikan, dan sebagaiya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu disebut nilai estetik. Masalah sekarang ialah: apakah nilai estetik itu ? Dalam bidang filsafat, istilah nilai sering kali dipakai suatu kata benda abstrak yang berarti keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness).
Nilai estetik adalah sesuatu semata-mata realita psikologik yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat pada jiwa manusia dan bukan pada benda itu sendiri. Nilai ini ada yang membedakan antara lain nilai subyektif dan nilai obyektif. Ada lagi nilai perseorangan dengan nilai kemasyarakatan. Penggolongan yang lebih penting ialah nilai ekstrinsik dan nilai instrinsik. Nilai ekstrinsik di pandang dari bendanya, sedangkan nilai instriksik dan isinya.
b.      Nilai ekstrinsik
Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (“instrumental/contributory value), yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu.
c.       Nilai intrinsik
Nilai intrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri.
(Widaghdo, 2017, hal 62-66)



DAFTAR PUSTAKA
Prasetya, dkk. 1991. Ilmu Budaya Dasar MKDU. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
Widaghdo, dkk. 2017. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara
Muhammad. 2011. Ilmu Budaya Dasar Edisi Revisi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti
Sulaeman. 2018. Ilmu Budaya Dasar Edisi Revisi. Bandung: PT Refika Aditama




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tableau

Data Storytelling